Jiwa Kewirausahaan Menuju Kebangkitan Indonesia
oleh Muhammad Saiful M.Pd, 26 Oktober 2013

Oleh : Maulidin Akbar

Indonesia sedang menghadapi krisis. Krisis dalam hal ekonomi dan krisis dalam rasa nasionalisme yang dimiliki rakyatnya. Kedua krisis ini sebenarnya dapat diminimalisir dampaknya hanya dengan satu solusi. Jiwa kewirausahaan yang dimiliki secara merata oleh rakyat Indonesia akan mengantarkan bangsa ini menuju kebangkitan. Kebangkitan ekonomi yang akan juga mengantarkan bangsa ini menuju kebangkitan Indonesia.

Pertambahan penduduk Indonesia yang tinggi namun tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang layak telah menjadikan Indonesia sebagai negara dengan angka pengangguran yang tinggi. Seperti dicatat Badan Pusat Statistik pada Februari 2010, tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 7,41 persen atau setara 3 juta penduduk. Jumlah ini sangat memprihatinkan mengingat negara kita adalah negara yang sangat kaya akan berbagai sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia.

Tingkat pengangguran yang tinggi ini banyak disebabkan oleh kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia. Lapangan pekerjaan yang tersedia jumlahnya terbatas dan tidak kunjung bertambah sementara angka pertambahan penduduk semakin meningkat. Sayangnya, kebanyakan masyarakat Indonesia telah terdidik untuk memiliki mental pegawai yang fokus utamanya adalah mencari pekerjaan, bukan menciptakan pekerjaan.

Disadari atau tidak, pendidikan yang diberikan oleh lingkungan sekolah dan masyarakat kepada seorang anak adalah pendidikan yang membentuk anak itu untuk bekerja pada orang lain. Sekolah membentuk siswanya dengan kurikulum-kurikulum hapalan yang akan dilupakan begitu ujian selesai. Hal ini akan memenjarakan kreatifitas siswa karena mereka dituntut untuk menghapal, bukan memahami. Padahal, kreatifitas dan talenta seorang anak yang diasah dapat membentuk anak itu menjadi pribadi yang berani sehingga mungkin dapat menjadi salah satu penggerak penciptaan lapangan kerja Indonesia di masa depan.

Sekolah memberikan standar angka sebagai penilaian terhadap prestasi siswa. Ke depannya, siswa hanya akan berfokus pada angka yang mereka dapat, bukan pada ilmu yang mereka peroleh. Saat seorang siswa hanya berusaha mencapai nilai yang tinggi, mereka akan melakukan segala cara untuk mencapai nilai yang diinginkan, termasuk menghapal semalam suntuk atau bahkan menyontek. Proses bukan menjadi sebuah hal yang penting bagi siswa. Hasil adalah yang terpenting. Mental seperti ini, di masa depan, akan menjadikan siswa tumbuh menjadi manusia yang malas. Manusia yang mencari cara-cara instan demi mencapai sesuatu yang diinginkan. Sikap ini tentunya adalah salah satu faktor penting yang menjadikan masyarakat Indonesia memilih bekerja untuk orang lain, bukan menciptakan pekerjaan. Mereka mencari sesuatu yang sudah jelas dan kelihatan ketimbang memulai sesuatu yang belum pasti. Proses adalah sebuah kata yang belum akrab pada diri kebanyakan masyarakat Indonesia.

Sistem lain pada pendidikan di Indonesia yang mengekang jiwa kewirausahaan siswanya adalah menjadikan siswa terbiasa disuapi dengan pelajaran-pelajaran tanpa melibatkan siswa itu sendiri. Siswa menjadi malas berpikir serta malas mengemukakan pendapatnya karena memang kesempatan yang diberikan oleh pihak pendidik terbatas. Seseorang yang terbiasa disuapi akan mengalami rasa kaget saat harus memulai sesuatu yang penuh risiko. Lulusan-lulusan hasil sistem pendidikan Indonesia akan menjadi lulusan-lulusan yang takut mengambil resiko. Padahal seorang wirausahawan dituntut untuk memiliki sikap berani mengambil resiko.

Menjadi seorang wirausahawan juga berarti menjadi seorang pemimpin. Seseorang yang ingin memulai sesuatu yang baru harus menjadi pemimpin bagi apa yang akan dikerjakannya juga bagi dirinya sendiri. Sistem pendidikan di Indonesia, lagi-lagi, kurang memfasilitasi siswanya untuk menjadi pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri. Siswa seringkali diperintah, bukan diajak berpikir apa yang baik untuk mereka masing-masing. Hal ini tentu saja akan menghambat tumbuhnya jiwa kepemimpinan bagi setiap individu.

Keadaan pendidikan yang memprihatinkan ini berlangsung tidak hanya pada pendidikan dasar, namun juga sampai ke tingkat pendidikan atas. Masyarakat dini di Indonesia telah dibentuk oleh sistem pendidikan yang membentuk mereka menjadi pribadi yang kurang berkualitas sebagai pribadi yang mandiri. Kemampuan memahami yang tidak diberikan sekolah akan membentuk siswa menjadi manusia yang mengukur segala sesuatu yang ia dapat berdasarkan penilaian orang lain. Sayangnya, sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki penghargaan yang tinggi terhadap pekerjaan yang dilakukan bagi perusahaan, terutama yang telah memiliki nama besar. Seorang anak telah dididik atau bahkan didoktrin oleh para pendidiknya untuk mencari pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar atau di perusahaan-perusahaan milik negara yang akan menjamin pekerjanya sampai masa pensiun. Bidang kewirausahaan jarang sekali dibahas oleh para pendidik.

Mengingat betapa besarnya peran sekolah dalam membentuk karakter bangsa maka perlu adanya peninjauan kembali kurikulum pendidikan Indonesia. Kurikulum Indonesia sendiri telah mengalami perubahan sebanyak dua kali. Setelah kurikulum 1994 berubah menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), terjadi perubahan lagi yang sampai sekarang masih dipakai yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Meskipun telah mengalami perubahan yang cukup baik, misalnya guru sebagai fasilitator dan siswa sebagai elemen yang aktif, perubahan kurikulum ini ternyata dirasa belum cukup untuk mengatasi isu kewirausahaan. Pada kenyataannya, usaha yang dilakukan pemerintah dengan mengubah sistem kurikulum belum dapat dipraktikan dengan baik. Proses pembelajaran dan penilaian masih mengarahkan siswa menjadi manusia yang malas, melakukan cara-cara instan untuk mencapai nilai, dan tidak berani mengambil risiko.

Indonesia harus banyak belajar pada negara seperti Amerika dan Singapura. Kurikulum yang diterapkan di negara tersebut lebih banyak mengandalkan pendekatan personal melalui jurnal-jurnal yang dibuat oleh siswa sehingga pendidik dapat benar-benar memperhatikan kebutuhan masing-masing siswa. Selain itu, jumlah pelajaran yang diberikan pun tidak berlebihan sehingga siswa dapat dengan sungguh-sungguh mempelajari setiap bidangnya tanpa ada tekanan tenggat waktu atau pun tekanan nilai. Kurikulum di negara maju mendukung siswanya menjadi seorang pemimpin. Kepemimpinan erat sekali dengan jiwa kewirausahaan yang sedang sangat dibutuhkan oleh Indonesia.

Hal lain yang memprihatinkan adalah bahwa bangsa ini lebih bangga apabila dapat bekerja untuk perusahaan asing. Pola pikir seperti ini, selain menjadikan masyarakat Indonesia memiliki mental pegawai juga sekaligus melunturkan jiwa nasionalisme yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Seharusnya sekolah dan keluarga juga menanamkan nilai-nilai kebanggaan akan bangsa sendiri kepada anak-anaknya sejak dini. Kebanggaan berbahasa dan berbangsa Indonesia kelak akan menjadikan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang rindu untuk memajukan bangsanya. Menjadi seorang wirausahawan dengan menyediakan lapangan pekerjaan serta menyediakan produk-produk barang dan jasa yang tidak hanya dipasarkan di Indonesia adalah salah satu cara memajukan bangsa.

Pada akhirnya, lingkungan keluarga dan sekolah memiliki peran yang sangat esensial dalam perkembangan mental dan pola pikir generasi mendatang. Peninjauan kembali kurikulum pendidikan dan pola hidup masyarakat yang didukung oleh berbagai pihak, terutama pemerintah, sangat mungkin akan mengantarkan bangsa ini menuju bangsa mandiri yang memiliki jiwa nasionalisme yang kuat.

Penulis adalah anggota PMW 2013 Se-Kopertis Wilayah 1 Medan dari UNIGHA dan saat ini menjabat sebagai Menteri Pendidikan Pemerintah Mahasiswa Universitas Jabal Ghafur, Sigli.

Bagi anda yang mempunyai tulisan, artikel bisa dikirim ke email okifirdaus@unigha.ac.id tulisan anda akan kami seleksi terlebih dahulu sebelum di publikasikan di web ini

Share this :